IAID, salah satu nama
sekolah tinggi di daerah Ciamis. Awalnya saya tidak begitu tahu semua hal
tentang IAID, hingga pada suatu hari saya mulai mengenal bahkan mejadi salah
satu bagian dari keluarga IAID.
Di
sini, saya akan mencoba berbagi pengalaman, berbagi cerita, atau bahkan berbagi
informasi kepada para pembaca mengenai IAID.
Berawal
dari tahun 2012. Saya adalah salah satu siswa disebuah Madrasah Aliyah Negeri
di daerah Pamarican, tepatnya di Madrasah Aliyah Negeri Sukajadi. Saat itu saya
duduk di bangku kelas XII, dan pada saat itu pula saya mulai mempersiapkan diri
untuk menghadapi Ujian Nasional dan juga mulai memilih Universitas untuk
melanjutkan pendidikan saya selanjutnya. Banyak pilihan Universitas yang saya incar.
Namun ada 3 Universitas yang menarik perhatian saya dan ke-3 Univesitas itu juga
sepertinya lebih menjanjikan dan menunjang pendidikan saya. 3 Universitas
tersebut adalah UNY, UIN Sunan Kalijaga, dan UIN Sunan Gunung Djati. Ya, saya
bertekad, saya yakin, dan saya optimis untuk bisa masuk di salah satu
Universitas tersebut.
Setelah
Ujian Nasiona berakhir, saya, teman-teman, dan pembimbing atau guru BP mulai
mencari informasi mengenai bagaimana cara mendaftar di Universitas, dan
ternyata ada banyak cara, mulai dari SNMPTN Undangan, SNMPTN Tulis, PMDK, SPMB
PTAIN, dan terakhir jalur Mandiri. Saya mulai memersiapkan segala keperluan
untuk pendaftaran. Mulai dari daftar nilai rapor sekolah, bahkan mengeluarkan
biaya untuk administrasi.
Pertama,
saya mengambil jaur SNMPTN Undangan di UNY dan mengambil jurusan Seni Musik.
Saya sangat optimis untuk bisa lolos dan masuk ke UNY. Namun takdir berkata
lain. Saya gagal! Itu sungguh memudarkan semangat dan optimis saya. Namun saya
terus mencoba lagi melalui jalur lain. SNMPTN Tulis harus saya hadapi, namun
hasil akhirnya tetap saja kegagalan yang saya terima. Akan tetapi, masih ada
satu kesempatan yang harus saya jalani, yaitu jalur SPMB PTAIN yang menjadi
program di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya mulai dengan membayar
administrasi dan selanjutnya mendaftar secara online. Selang beberapa hari,
tiba waktunya saya untuk mengikuti ujian seleksi masuk SPMB PTAIN. Begitu besar
dan berat perjuangan yang harus saya lalui. Namun semua itu sia-sia saja.
Pengorbanan yang saya lakukan tidak membuahkan hasil yang saya harapkan. Allah
tidak mengizinkan saya untuk kuliah di tempat yang saya inginkan. Saya berusaha
untuk tetap menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan Allah. UNY, UIN
Sunan Kalijaga, dan UIN Gunung Djati bukanlah tempat terbaik yang Allah ridhoi
untuk saya menimba ilmu. Namun saya sadar, tidak mungkin jika saya tidak kuliah
dan tidak melanjutkan pendidikan. Ternyata ada Universitas di Ciamis sebagai
penyelamat pendidikan dan masa depan saya. Ya IAID. Awalnya saya ragu dan
menilai sebelah mata terhadap IAID ini. Namun dengan keyakinan, masukan, dan
motivasi yang diberikan orang tua saya muai sadar, menerima, dan menyemangati
diri sendiri. “Oke, saya coba!”. Itulah kalimat pertama saya sebagai bentuk
kesiapan saya mengabdikan diri dan berjuang di IAID.
Hari
demi hari saya lalui menimba ilmu di IAID, dan kalian tahu apa yang saya
rasakan? Bosan, tidak nyaman, dan aneh. Namun dengan segera saya berusaha
menepis perasaan yang tak seharusnya saya rasakan. Sebab, jika saya terus
menerus menyimpan perasaan ini, itu hanya akan mengganggu saja seperti benalu.
Atau bahkan akan menjadi syaitan yang
akan terus saja menggoda dan menumbangkan kesabaran saya. Orang tua saya pun
tidak tinggal diam mendapati saya memiliki perasaan itu. Mereka menyadarkan dan
memberi saya nasehat bahwa itu semua adalah suatu rasa kewajaran karena saya
mulai terjun ke dunia baru. Ya, saya berusaha untuk tetap bisa menerima,
bertahan, sabar, dan menikmati segala suasana dan kenyataan yang saat ini saya hadapi.
Setelah
berjalan hampir setengah tahun, saya mulai merasakan kembali semangat dalam
hidup saya. Seperti kembalinya nyawa yang sempat hilang entah kemana. Saya
mulai kembali menjadi diri saya sendiri, apa adanya. Terlebih ketika saya mulai
mendapatkan teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Sifat dan karakter
mereka yang berbeda membuat saya bisa lebih mengerti dan menghargai orang lain,
serta memahami arti dari sebuah teman dan persahabatan. Bahkan mereka bisa
memotivasi saya untuk bertahan menimba ilmu di IAID ini. Sungguh kenyataan
indah yang baru saya sadari.
Rencana
Tuhan memang tak ada yang bisa menduga. Sebuah kesempatan dan peluang yang
tidak banyak orang bisa memilikinya muncul begitu saja. Tawaran untuk bekerja
sambilan ketika libur kuliah memenuhi dan mempermainkan pikiran saya. Awalnya
saya ragu, karena saya berpikir tugas kuliah yang selalu saya terima pun
terkadang menghabiskan waktu libur saya untuk bisa menyelesaikannya, apalagi
jika ditambah dengan waktu bekerja. Akan sangat sulit untuk saya bisa membagi
waktu yang memang sangat sempit. Akan tetapi berkat pengertian dan arahan yang
orang tua saya berikan, saya memutuskan untuk mengatakan “oke, saya ambil
tawaran itu”, meskipun ada rasa keterpaksaan yang saya rasakan.
Kantor
Urusan Agama Kecamatan Padaherang, itulah tempat saya bekerja. Ya, setidaknya
memang pekerjaan yang sesuai dengan Jurusan dan Fakultas yang saya ambil saat
ini. Setiap hari Senin sampai hari Kamis saya isi dengan bekerja, dan Jum’a
hingga hari Minggu saya laksanakan kewajiban saya untuk mengikuti perkuliahan
di IAID. Begitulah seterusnya hingga saat ini. Meskipun sulit mendapatkan waktu
luang yang memang sangatlah sempit, namun saya tidak pernah mengabaikan tugas
yang diberikan. Saya tetap berusaha mengerjakan apa yang menjadi tanggungjawab
dan kewajiban saya sebagai seorang Mahasiswa.
Dari
hari Senin sampai hari Senin lagi itulah yang saya lakukan, kuliah dan bekerja.
Cukup lama saya bekerja, saya mulai merasakan kenyamanan dan bisa menikmati
keadaan yang memang harus saya jalani. Terlebih ketika saya bisa menghasilkan
sesuatu dari hasil jerih payah dan keringat saya sendiri. Saya mulai berfikir,
bagaimana jika saya dulu lolos dan bisa masuk kuliah di UIN atau UNY? Apakah
saya bisa mendapatkan semua ini? Apakah saya bisa mendapatkan kenikmatan,
kesempatan, peluang, dan pekerjaan seperti saat ini? Rasanya tidak. Aahh,,
memang inilah rencana yang Allah rangkai untuk saya, memang inilah jalan yang
terbaik untuk saya, memang inilah skenario yang Allah Tuliskan untuk saya, dan
inilah jawaban dan hikmah dibalik kegagalan yang saya alami ketika ingin masuk
ke Universitas yang saya inginkan dulu. Allah tahu apa-apa yang terbaik untuk
umatnya, karena memang di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya sudah
Allah rencanakan dengan matang dan dengan hasil akhir yang indah.
Saat
ini, saya enyahkan ego dan gengsi yang saya rasakan. Saya mulai bisa berdiri
dengan kesadaran penuh, tanpa ada rasa terpaksa. Di sinilah saya hidup, di
sinilah saya mengabdikan diri dan berjuang, dan di sinilah awal dari masa depan
indah yang akan saya raih suatu saat nanti. Karena saya mulai menyadari, apa
yang saya jalani saat ini, kenyataan yang saat ini saya hadapi adalah suatu hal
yang sudah Allah gariskan dalam hidup saya dan ini sangat menyenangkan.
Teman-temanku,
seangkatan dan seperjuangan, di IAID ini marilah kita berjuang bersama, kita
genggam Gelar Sarjana Syar’ah untuk kita sematkan di belakang nama kita, kita
raih cita-cita dan harapan kita untuk masa depan yang sudah menanti di depan
sana. Kita lawan, kita hadapi, dan perjuangkan apa yang memang seharusnya
menjadi hak kita. Karena kesuksesan berada di genggaman tangan dan di bawah
pijakan kaki kita sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar