Jumat, 20 Desember 2013

IAID, HIDUPKU, dan MASA DEPANKU



IAID, salah satu nama sekolah tinggi di daerah Ciamis. Awalnya saya tidak begitu tahu semua hal tentang IAID, hingga pada suatu hari saya mulai mengenal bahkan mejadi salah satu bagian dari keluarga IAID.
            Di sini, saya akan mencoba berbagi pengalaman, berbagi cerita, atau bahkan berbagi informasi kepada para pembaca mengenai IAID.
            Berawal dari tahun 2012. Saya adalah salah satu siswa disebuah Madrasah Aliyah Negeri di daerah Pamarican, tepatnya di Madrasah Aliyah Negeri Sukajadi. Saat itu saya duduk di bangku kelas XII, dan pada saat itu pula saya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional dan juga mulai memilih Universitas untuk melanjutkan pendidikan saya selanjutnya. Banyak pilihan Universitas yang saya incar. Namun ada 3 Universitas yang menarik perhatian saya dan ke-3 Univesitas itu juga sepertinya lebih menjanjikan dan menunjang pendidikan saya. 3 Universitas tersebut adalah UNY, UIN Sunan Kalijaga, dan UIN Sunan Gunung Djati. Ya, saya bertekad, saya yakin, dan saya optimis untuk bisa masuk di salah satu Universitas tersebut.
            Setelah Ujian Nasiona berakhir, saya, teman-teman, dan pembimbing atau guru BP mulai mencari informasi mengenai bagaimana cara mendaftar di Universitas, dan ternyata ada banyak cara, mulai dari SNMPTN Undangan, SNMPTN Tulis, PMDK, SPMB PTAIN, dan terakhir jalur Mandiri. Saya mulai memersiapkan segala keperluan untuk pendaftaran. Mulai dari daftar nilai rapor sekolah, bahkan mengeluarkan biaya untuk administrasi.
            Pertama, saya mengambil jaur SNMPTN Undangan di UNY dan mengambil jurusan Seni Musik. Saya sangat optimis untuk bisa lolos dan masuk ke UNY. Namun takdir berkata lain. Saya gagal! Itu sungguh memudarkan semangat dan optimis saya. Namun saya terus mencoba lagi melalui jalur lain. SNMPTN Tulis harus saya hadapi, namun hasil akhirnya tetap saja kegagalan yang saya terima. Akan tetapi, masih ada satu kesempatan yang harus saya jalani, yaitu jalur SPMB PTAIN yang menjadi program di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saya mulai dengan membayar administrasi dan selanjutnya mendaftar secara online. Selang beberapa hari, tiba waktunya saya untuk mengikuti ujian seleksi masuk SPMB PTAIN. Begitu besar dan berat perjuangan yang harus saya lalui. Namun semua itu sia-sia saja. Pengorbanan yang saya lakukan tidak membuahkan hasil yang saya harapkan. Allah tidak mengizinkan saya untuk kuliah di tempat yang saya inginkan. Saya berusaha untuk tetap menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan Allah. UNY, UIN Sunan Kalijaga, dan UIN Gunung Djati bukanlah tempat terbaik yang Allah ridhoi untuk saya menimba ilmu. Namun saya sadar, tidak mungkin jika saya tidak kuliah dan tidak melanjutkan pendidikan. Ternyata ada Universitas di Ciamis sebagai penyelamat pendidikan dan masa depan saya. Ya IAID. Awalnya saya ragu dan menilai sebelah mata terhadap IAID ini. Namun dengan keyakinan, masukan, dan motivasi yang diberikan orang tua saya muai sadar, menerima, dan menyemangati diri sendiri. “Oke, saya coba!”. Itulah kalimat pertama saya sebagai bentuk kesiapan saya mengabdikan diri dan berjuang di IAID.
            Hari demi hari saya lalui menimba ilmu di IAID, dan kalian tahu apa yang saya rasakan? Bosan, tidak nyaman, dan aneh. Namun dengan segera saya berusaha menepis perasaan yang tak seharusnya saya rasakan. Sebab, jika saya terus menerus menyimpan perasaan ini, itu hanya akan mengganggu saja seperti benalu. Atau bahkan akan menjadi syaitan yang akan terus saja menggoda dan menumbangkan kesabaran saya. Orang tua saya pun tidak tinggal diam mendapati saya memiliki perasaan itu. Mereka menyadarkan dan memberi saya nasehat bahwa itu semua adalah suatu rasa kewajaran karena saya mulai terjun ke dunia baru. Ya, saya berusaha untuk tetap bisa menerima, bertahan, sabar, dan menikmati segala suasana dan kenyataan yang saat ini saya hadapi.
            Setelah berjalan hampir setengah tahun, saya mulai merasakan kembali semangat dalam hidup saya. Seperti kembalinya nyawa yang sempat hilang entah kemana. Saya mulai kembali menjadi diri saya sendiri, apa adanya. Terlebih ketika saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang sangat menyenangkan. Sifat dan karakter mereka yang berbeda membuat saya bisa lebih mengerti dan menghargai orang lain, serta memahami arti dari sebuah teman dan persahabatan. Bahkan mereka bisa memotivasi saya untuk bertahan menimba ilmu di IAID ini. Sungguh kenyataan indah yang baru saya sadari.
            Rencana Tuhan memang tak ada yang bisa menduga. Sebuah kesempatan dan peluang yang tidak banyak orang bisa memilikinya muncul begitu saja. Tawaran untuk bekerja sambilan ketika libur kuliah memenuhi dan mempermainkan pikiran saya. Awalnya saya ragu, karena saya berpikir tugas kuliah yang selalu saya terima pun terkadang menghabiskan waktu libur saya untuk bisa menyelesaikannya, apalagi jika ditambah dengan waktu bekerja. Akan sangat sulit untuk saya bisa membagi waktu yang memang sangat sempit. Akan tetapi berkat pengertian dan arahan yang orang tua saya berikan, saya memutuskan untuk mengatakan “oke, saya ambil tawaran itu”, meskipun ada rasa keterpaksaan yang saya rasakan.
            Kantor Urusan Agama Kecamatan Padaherang, itulah tempat saya bekerja. Ya, setidaknya memang pekerjaan yang sesuai dengan Jurusan dan Fakultas yang saya ambil saat ini. Setiap hari Senin sampai hari Kamis saya isi dengan bekerja, dan Jum’a hingga hari Minggu saya laksanakan kewajiban saya untuk mengikuti perkuliahan di IAID. Begitulah seterusnya hingga saat ini. Meskipun sulit mendapatkan waktu luang yang memang sangatlah sempit, namun saya tidak pernah mengabaikan tugas yang diberikan. Saya tetap berusaha mengerjakan apa yang menjadi tanggungjawab dan kewajiban saya sebagai seorang Mahasiswa.
            Dari hari Senin sampai hari Senin lagi itulah yang saya lakukan, kuliah dan bekerja. Cukup lama saya bekerja, saya mulai merasakan kenyamanan dan bisa menikmati keadaan yang memang harus saya jalani. Terlebih ketika saya bisa menghasilkan sesuatu dari hasil jerih payah dan keringat saya sendiri. Saya mulai berfikir, bagaimana jika saya dulu lolos dan bisa masuk kuliah di UIN atau UNY? Apakah saya bisa mendapatkan semua ini? Apakah saya bisa mendapatkan kenikmatan, kesempatan, peluang, dan pekerjaan seperti saat ini? Rasanya tidak. Aahh,, memang inilah rencana yang Allah rangkai untuk saya, memang inilah jalan yang terbaik untuk saya, memang inilah skenario yang Allah Tuliskan untuk saya, dan inilah jawaban dan hikmah dibalik kegagalan yang saya alami ketika ingin masuk ke Universitas yang saya inginkan dulu. Allah tahu apa-apa yang terbaik untuk umatnya, karena memang di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya sudah Allah rencanakan dengan matang dan dengan hasil akhir yang indah.
            Saat ini, saya enyahkan ego dan gengsi yang saya rasakan. Saya mulai bisa berdiri dengan kesadaran penuh, tanpa ada rasa terpaksa. Di sinilah saya hidup, di sinilah saya mengabdikan diri dan berjuang, dan di sinilah awal dari masa depan indah yang akan saya raih suatu saat nanti. Karena saya mulai menyadari, apa yang saya jalani saat ini, kenyataan yang saat ini saya hadapi adalah suatu hal yang sudah Allah gariskan dalam hidup saya dan ini sangat menyenangkan.
            Teman-temanku, seangkatan dan seperjuangan, di IAID ini marilah kita berjuang bersama, kita genggam Gelar Sarjana Syar’ah untuk kita sematkan di belakang nama kita, kita raih cita-cita dan harapan kita untuk masa depan yang sudah menanti di depan sana. Kita lawan, kita hadapi, dan perjuangkan apa yang memang seharusnya menjadi hak kita. Karena kesuksesan berada di genggaman tangan dan di bawah pijakan kaki kita sendiri.     

0 komentar:

Posting Komentar